Lab45

LAB 45 adalah lembaga kajian yang ingin menyelaraskan antara ilmu pengetahuan dan praktik empiris di bidang peramalan strategis.
LAB 45 berkonsentrasi pada perkembangan global yang berdampak strategis dan bersifat disruptif terhadap kemajuan dan stabilitas Indonesia.
LAB 45 bekerja membantu para pemangku kebijakan dalam mendorong proses transformasi Indonesia menuju negara maju pada tahun 2045.
Logo LAB 45 mencerminkan kesiapan menghadapi ketidakpastian dan tekad untuk terus melangkah maju. Simbol Angsa Hitam merepresentasikan peristiwa langka dan tak terduga yang berdampak signifikan, sebagai pengingat perlunya ketangguhan dan adaptasi bangsa. Sementara itu, Gagak Putih melambangkan keberanian untuk berpikir berbeda dan menemukan peluang dari hal-hal yang dianggap mustahil. Unsur Delta (δ) menegaskan kekuatan dan energi transformasi, sedangkan Epsilon (ε) menggambarkan perjalanan progresif menuju lompatan Indonesia dari negara berkembang menjadi negara maju.
Publikasi
Terpopuler
Delapan dekade perjalanan demokrasi Indonesia mencerminkan dinamika politik yang kompleks dan penuh gejolak. Demokrasi Indonesia tidak berkembang secara linier, tetapi mengalami fluktuasi tajam yang dipengaruhi oleh perubahan rezim, orientasi kekuasaan, dan kapasitas kelembagaan negara. Sejak era parlementer hingga masa Reformasi, demokrasi Indonesia telah menghadapi tekanan struktural maupun kultural yang berdampak pada ketegangan antara prosedur formal demokrasi dan kualitas substantifnya.
Penurunan kualitas demokrasi Indonesia dalam dua dekade terakhir terjadi karena semakin dominannya kekuasaan eksekutif, pelemahan lembaga pengawas, serta kooptasi terhadap parlemen, yudikatif, dan media. Partai politik, yang seharusnya menjadi penggerak utama demokrasi, justru berkontribusi pada pelemahan demokrasi melalui kartelisasi, oligarkisasi, dan personalisasi. Di tengah sistem multipartai, tidak terjadi diferensiasi ideologis atau kontestasi programatik yang bermakna, melainkan justru terjadi konvergensi kepentingan elite politik yang menyatu dalam koalisi pragmatis kekuasaan. Akibatnya, demokrasi prosedural kehilangan daya kontrol dan kepercayaan publik semakin menurun.
Terbaru
Buku 1929 karya Andrew Ross Sorkin merupakan sebuah rekonstruksi historis yang komprehensif mengenai runtuhnya pasar saham Amerika Serikat pada tahun 1929. Peristiwa yang kemudian dikenal sebagai The Great Crash dan menjadi pemicu Depresi Besar. Andrew Ross Sorkin merupakan seorang jurnalis ekonomi ternama yang juga menulis Too Big to Fail, menyajikan narasi dengan pendekatan yang sangat manusiawi, serta menghidupkan kembali tokoh-tokoh kunci di balik krisis, mulai dari bankir raksasa, regulator, politisi, hingga para spekulan yang mempengaruhi arah sejarah ekonomi modern. Melalui gaya penulisan Sorkin tidak hanya mendeskripsikan alur kejadian, tetapi juga menggali motivasi, dinamika personal, dan konflik politik yang membentuk fondasi kerentanan sistem keuangan. Dalam kerangka ini, buku 1929 tidak hanya dilihat sebagai karya sejarah, tetapi juga sebagai studi kasus mengenai keterbatasan regulasi, bahaya spekulasi berlebihan, dan kegagalan institusional.
ADA yang lebih berbahaya dari ketidaktahuan: ketidakmauan yang menyamar sebagai ketidaktahuan. Selama 22 tahun, Indonesia tahu persis ada jutaan perempuan bekerja tanpa kontrak, tanpa jam kerja, tanpa jaminan sosial, tanpa hak atas tubuh mereka sendiri ketika kekerasan datang. Negara tahu. Namun, negara memilih untuk tidak bergerak.























