Publikasi
Publikasi Kami

1929: Inside the Greatest Crash in Wall Street History and How It Shattered a Nation
Buku 1929 karya Andrew Ross Sorkin merupakan sebuah rekonstruksi historis yang komprehensif mengenai runtuhnya pasar saham Amerika Serikat pada tahun 1929. Peristiwa yang kemudian dikenal sebagai The Great Crash dan menjadi pemicu Depresi Besar. Andrew Ross Sorkin merupakan seorang jurnalis ekonomi ternama yang juga menulis Too Big to Fail, menyajikan narasi dengan pendekatan yang sangat manusiawi, serta menghidupkan kembali tokoh-tokoh kunci di balik krisis, mulai dari bankir raksasa, regulator, politisi, hingga para spekulan yang mempengaruhi arah sejarah ekonomi modern. Melalui gaya penulisan Sorkin tidak hanya mendeskripsikan alur kejadian, tetapi juga menggali motivasi, dinamika personal, dan konflik politik yang membentuk fondasi kerentanan sistem keuangan. Dalam kerangka ini, buku 1929 tidak hanya dilihat sebagai karya sejarah, tetapi juga sebagai studi kasus mengenai keterbatasan regulasi, bahaya spekulasi berlebihan, dan kegagalan institusional.

RUU PPRT: Ketika Konstitusi Berhenti di Depan Pintu Dapur
ADA yang lebih berbahaya dari ketidaktahuan: ketidakmauan yang menyamar sebagai ketidaktahuan. Selama 22 tahun, Indonesia tahu persis ada jutaan perempuan bekerja tanpa kontrak, tanpa jam kerja, tanpa jaminan sosial, tanpa hak atas tubuh mereka sendiri ketika kekerasan datang. Negara tahu. Namun, negara memilih untuk tidak bergerak.

AI war has arrived, but the revolution isn’t done
Two questions have shaped strategic debate since Feb. 28. Was Operation Epic Fury the first artificial intelligence war in history - a genuine break from every previous conflict - or merely the largest application of technologies militaries have been using for decades?

Guru yang Membuka Kunci
Sebuah Kenangan untuk Prof. Juwono Sudarsono
Sebuah Kenangan untuk Prof. Juwono Sudarsono
Ada jenis guru yang kehadirannya tidak terasa sebagai pengajaran sampai bertahun-tahun kemudian, ketika seseorang menoleh ke belakang dan mendapati bahwa hampir setiap keputusan besar dalam hidupnya bermula dari satu pertemuan, satu surat, satu pertanyaan pendek yang diajukan tanpa basa-basi. Prof. Juwono Sudarsono — Pak Ju, begitu saya memanggilnya — adalah guru semacam itu. Seluruh lintasan intelektual dan profesional saya tumbuh di dalam radius yang beliau bentangkan dengan sabar selama lebih dari tiga dekade, sering tanpa saya sadari sepenuhnya sampai hari ini, ketika saya harus menuliskan namanya dalam kalimat perpisahan.

Operation Epic Fury: The First AI War and The Revolution in Military Affairs
On February 28, 2026, the United States and Israel launched Operation Epic Fury against Iran: nine hundred strikes in twelve hours — the largest American military operation in a generation and the first full-spectrum Artificial Intelligence (AI) war in history.
This essay addresses three analytical questions in sequence.
First: the twenty-three days, from the opening strike to the Trump ceasefire statement on March 23 — a complete operational chronology of how the war began, escalated, degraded Iran’s military capacity, and reached its diplomatic terminus.
Second: was Epic Fury the first AI war — the definitional question that determines whether this conflict constitutes a qualitative break from all previous uses of AI in warfare.
Third: is the first AI war another Revolution in Military Affairs (RMA) — and if so, which of the five diagnostic RMA criteria were confirmed in combat, and which remains dangerously incomplete.
The answers, rendered on Day 23 with full operational data: yes, yes, and four of five.

Bahaya Menjadikan Intelijen Alat Kekuasaan
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto bahwa ia akan menertibkan pengamat yang mengkritik pemerintahannya menjadi alarm bahaya untuk demokrasi kita. Tak hanya menunjukkan alergi terhadap kritik, pernyataan itu muncul berdasarkan data intelijen.

How States Think: The Rationality of Foreign Policy
Negara mengambil kebijakan luar negeri berdasarkan pertimbangan rasionalitas. Rasionalitas adalah bagaimana aktor internasional memandang dunia menurut persepsinya sendiri untuk mencapai tujuannya. Namun, sistem internasional merupakan sebuah tempat yang sulit bagi aktor untuk mendapatkan informasi. Seandainya aktor internasional berhasil mendapatkan informasi yang diinginkannya, ada probabilitas besar bahwa informasi tersebut tidak dapat diandalkan karena telah dimanipulasi oleh aktor-aktor lain. Dengan kata lain, negara membutuhkan sebuah teori untuk dapat melihat sebuah fenomena dengan lebih masuk akal. Aktor pembuat kebijakan luar negeri juga akan dikatakan rasional ketika menggunakan teori untuk melihat fenomena yang terjadi agar dapat mencapai tujuannya.

The anatomy of the Mideast war: 24 days that alter the nature of conflict
If there were a single turning point that fundamentally shifted the character of the war between Iran, the United States, and Israel, it was Saturday night, March 21—the 22nd day of the conflict. However, its full magnitude only became clear on the 24th day. Iran launched ballistic missiles at Dimona and Arad, two regions in the southern Negev located in close proximity to the Shimon Peres Negev Nuclear Research Center, a facility widely believed to house Israel’s illegal undeclared nuclear arsenal.

Retorika Negara, Kekerasan Sipil, dan Chilling Effect dalam Krisis Demokrasi Indonesia
Hannah Arendt dalam On Violence (1970) menegaskan bahwa kekuasaan dan kekerasan adalah antonim, bukan spektrum yang sama: “Power and violence are opposites; where the one rules absolutely, the other is absent.” Kekuasaan, baginya, adalah properti kolektif yang lahir ketika orang-orang bertindak bersama dan lenyap ketika mereka berpencar — ia tidak pernah bisa dimiliki satu orang seorang. Kekerasan sebaliknya bersifat instrumental, selalu membutuhkan pembenaran dari tujuan di luarnya. Karena itulah Arendt memperingatkan: “Violence appears where power is in jeopardy” — kekerasan muncul bukan sebagai ekspresi kekuatan, melainkan sebagai respons terhadap ancaman terhadap legitimasi.

THE COST STRUCTURE OF WAR
When the United States launched Operation Midnight Hammer against Iran's nuclear infrastructure in October 2025, it did so with the familiar assurance that the campaign would be precise, bounded, and decisive. When Operation Epic Fury followed six months later — broader in scope, deeper in consequence — that assurance had already been superseded by events. Together, the two operations constitute the most significant American use of force since the invasion of Iraq, and they carry a cost structure that no Congressional appropriation has fully captured. This essay applies a five-tier analytical framework to the conflict's cost architecture, examines the war deficit in its complete fiscal and structural dimensions, and argues that the United States pays for its wars through three interlocking mechanisms — sovereign debt issuance, hidden inflation taxation, and the externalization of macroeconomic burden through dollar privilege — each of which distributes costs across time, across income groups, and across sovereign borders in ways specifically designed to minimize the political accountability of those who authorize the fighting.

