Dari Lini Masa ke Aksi Massa

Hilmar Farid Telaah Kebijakan Kamis, 25 September 2025
Unduh Publikasi
img
Penulis :
img
Dosen Senior
Institut Kesenian Jakarta

Dua tahun terakhir, di sejumlah kota Asia, kita menyaksikan pola yang berulang: sebuah ungkapan ketidakadilan menyala di lini masa, menjalar cepat dari unggahan ke unggahan, lalu tumpah ke jalanan. Dan ini bukan sekadar ledakan amarah terhadap kebijakan yang merugikan atau skandal yang menyebalkan, yang kita lihat adalah cara orang muda memahami kebenaran politik, memeriksanya, lalu mengambil keputusan untuk bertindak. Orang muda tidak menanti aba-aba dari tokoh karismatik atau keputusan organisasi. Mereka menunggu sinyal yang saling menguatkan di ruang yang mereka huni setiap hari, yaitu thread di X, video pendek di TikTok, meme yang melesat di Instagram. Semua ini yang membentuk akal kolektif baru tentang politik, tentang perilaku elite, tentang apa yang pantas dan tidak pantas, dan tentang apa yang harus dilakukan.

Generasi ini, yang sering disebut Gen Z, lahir ketika internet sudah menjadi bagian dari keseharian. Perangkat di dalam genggaman tidak pernah benar-benar dimatikan dan menjadi sumber informasi yang paling penting. Jika dulu ada seleksi redaksi media, maka sekarang siapa pun bisa berbicara, memeriksa, menyanggah, dan berpotensi memantik arus baru. Pengetahuan politik tidak lagi mengalir dari sebuah pusat ke pinggiran, melainkan bersirkulasi secara horizontal di antara akun-akun yang saling terhubung. Validasi tidak ditentukan oleh gelar atau institusi, melainkan oleh partisipasi: berapa banyak orang yang mengiyakan, memperbaiki, menautkan, mengulang, dan akhirnya menurunkannya ke bentuk tindakan. Kita boleh merindukan masa ketika ritme debat publik lambat dan tertib; faktanya, ritme hari ini sangat rapat, dan keputusan sering dibuat di bawah tekanan notifikasi yang tak berkesudahan.

Di ruang seperti itu, bahasa politik juga bergeser. Laporan panjang masih diperlukan, tetapi jarang jadi pintu masuk. Publik tergerak melihat sesuatu yang ringkas, visual, dan afektif. Sebuah grafik sederhana yang membandingkan tunjangan pejabat dengan upah minimum misalnya jauh lebih menggelisahkan daripada laporan lengkap tentang krisis ekonomi. Sebaris caption yang cerdas bisa melampaui argumen panjang di seminar dan konperensi. Humor, satire, dan kemarahan bukan sekadar pelengkap tapi justru menjadi pesan intinya. Ini bukan berarti politik menjadi ringan, main-main, dan tidak serius. Politik hadir dengan cara baru yang sanggup menembus kebuntuan masa lalu dan menembus kebisingan masa kini. Dalam arus inilah publik membangun nilai baru tentang bagaimana semestinya mengurus negara untuk melayani kepentingan orang banyak.

Kita melihat gejalanya dalam rangkaian peristiwa yang, meski tidak identik, menampakkan pola serupa. Di Nepal, pembatasan terhadap platform digital menyulut amarah karena orang muda merasa ruang publik yang sudah menjadi bagian dari kesehariannya, dirampas. Mereka yang pertemanan, pekerjaan, dan berbagai informasi penting lainnya bergantung di ruang itu, membaca kebijakan tersebut bukan sebagai aturan teknis. Reaksi berawal dari protes daring lalu tumpah ke jalan. Di Indonesia, kritik terhadap DPR dan kebijakan publik menuai protes di jalan raya. Ketika Affan Kurniawan dilindas kendaraan taktis Brimob dan video kejadian itu beredar di jagat maya, amarah tidak dapat dibendung. Lebih dari seratus kota dilanda demonstrasi, yang di puluhan kota disertai perusakan fasilitas publik. Di Filipina, soal fiskal yang biasanya hanya menjadi pembicaraan para teknokrat, tiba-tiba menjadi pembicaraan umum. Utang negara diterjemahkan menjadi persoalan sehari-hari rakyat pekerja. Di Bangladesh, pengangguran yang selama ini hanya mengeluh kepada sesamanya, bisa membentuk barisan massa ketika menyadari bahwa ada keserupaan nasib di antara mereka. Berbagai kejadian ini tentu tidak sama sebangun, tapi pola narasi digital yang mendapatkan resonansi luas dan bermuara kepada aksi kolektif bisa kita tangkap di semua kejadian.

Masalahnya, aparatur negara menghadapi gejala baru ini dengan kamus lama. Para pejabatnya terus menuding kelompok radikal, campur tangan asing, oposisi yang menunggangi, dan seterusnya. Refleks politik seperti ini punya sejarah panjang, dari zaman kolonial, melalui Perang Dingin, dan pada masa kekuasaan otoriter. Tujuannya sama, untuk mendelegitimasi gerakan protes. Tetapi di hadapan generasi yang kesehariannya tersusun oleh percakapan yang dilengkapi bukti dan sanggahan yang bertemu di jaringan, narasi aparatur negara seperti itu dengan cepat menguap. Kita bisa melihat prosesnya: seseorang mengunggah data yang menurutnya aneh, seorang jurnalis warga menautkan dokumen anggaran, puluhan akun seketika memeriksa silang, menambah data dan informasi, pernyataan pejabat, dan menjelang sore, tuntutan sudah dirumuskan. Menyebut proses seperti itu “ditunggangi” tidak sekadar salah, tapi meremehkan kecerdasan bersama yang sedang bekerja. 

Di titik ini, persoalannya bukan lagi siapa melawan siapa, tetapi soal bagaimana demokrasi sedang menata ulang dirinya. Demokrasi modern bertumpu kepada prosedur, institusi, dan tempo yang memungkinkan pembahasan panjang hingga matang. Kadang bertele-tele dan tidak menemukan jalan keluar. Dinamika politik di lini masa dituntun oleh kecepatan, bukan selalu oleh mereka yang paling kuat argumennya. Ada risiko besar tentunya: viralitas bisa menggeser deliberasi, emosi yang menggerakkan mengalahkan kedalaman yang diperlukan untuk merumuskan kebijakan. Namun menuntut politik lini masa ini melambat seperti rapat komisi di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tentu tidak mungkin. Tugas terpenting di sini bukan memperlambat arusnya, tetapi membangun jembatan yang membuat arus cepat itu bisa menggerakkan kerja institusi yang cenderung lambat. Komisi, pengadilan, lembaga audit, dan mekanisme pengawasan harus tanggap merespons sinyal dari kebisingan, mengolahnya menjadi agenda, dan mengembalikannya kepada publik sebagai keputusan yang dapat diuji.

Masalah lain dari politik lini masa ini adalah isunya bisa memanas sesaat lalu meredup. Dan terbukti cukup banyak gerakan yang sudah berakhir sebelum menemukan bentuknya. Di berbagai tempat di dunia kita melihat gagasan kuat tentang ketimpangan sosial, krisis iklim, dan sebagainya menerangi langit beberapa bulan lalu hilang ditelan musim yang berganti. Ini bukan kegagalan moral, melainkan konsekuensi dari ekologi perhatian yang baru: banyak yang berebut ruang, sedikit yang menetap. Di sisi lain, ketika ruang berhasil didobrak paksa dan tuntutan awal tercapai, misalnya dengan mundurnya pejabat atau kebijakan diubah, maka sering kali muncul kekosongan. Ruang kosong ini tentu tidak dibiarkan kosong terlalu lama, dan yang mengisinya tidak lain adalah mereka yang paling siap secara organisasi. Itulah mengapa kita melihat pola yang menyesakkan terus berulang: rezim runtuh, harapan memuncak, struktur lama atau bentuk kekuasaan otoriter baru muncul untuk mengambil alih. 

Di sinilah perbedaan cara pandang antargenerasi menjadi penting. Generasi yang tumbuh dalam organisasi konvensional memahami politik sebagai kerja berjenjang dan berjangka. Generasi sekarang yang dalam kesehariannya hidup dalam jaringan yang cair dan kerja tidak tetap, memahami politik sebagai kreativitas, keberanian, dan kemampuan memadukan pesan dengan momen. Keduanya tidak harus bertentangan, tetapi ketegangan muncul ketika negara dan elite meremehkan gerakan seperti itu sebagai “letupan amarah sesaat” atau bahkan “gangguan keamanan” dan gagal memahami substansinya. Alih-alih mendengarkan tuntutan beserta argumentasinya, para elite sibuk mencari siapa yang ada di belakang gerakan, siapa yang diuntungkan, dan siapa yang perlu ditangkap untuk meredam gerakannya. Langkah seperti itu mungkin efektif untuk menertibkan jalanan, tapi tidak akan mungkin menertibkan pikiran. Sementara itu, aktivis muda yang alergi kepada struktur karena pengalaman buruk masa lalu, menyamakan organisasi dengan kooptasi, prosedur dengan kompromi. 

Pertanyaannya kemudian, bagaimana kita menjaga agar energi perubahan tidak menguap? Rumusnya sederhana, pelaksanaannya sulit. Pertama, gerakan yang tumbuh cepat memerlukan jangkar. Bukan dalam bentuk partai atau organisasi dengan perangkat yang kaku, tetapi wadah yang sanggup menyimpan data, pengetahuan kasus, daftar kontak, dan rute advokasi. Ramping, lincah, dan efektif. Ketika isu berganti, jangkar itu menyimpan institutional memory, agar tak perlu selalu mengulang dari nol. Kedua, barisan perlu diperluas secara substantif. Narasi di lini masa efektif membuka pintu, tetapi basis yang menentukan daya tahan adalah mereka yang merasakan manfaat langsung, seperti pekerja informal yang berhadapan dengan sistem kerja dan upah yang rapuh, petani yang ditekan oleh penetapan harga yang tidak adil, kelas menengah yang menghadapi krisis biaya hidup berkepanjangan. Ketika aliansi berbagai unsur masyarakat ini terbentuk, tuntutan tidak lagi berhenti pada momen, tetapi menjadi agenda yang bisa diukur. Dalam gelombang aksi yang baru lalu, agenda 17+8 sudah mengarah ke sana. Ketiga, muara protes adalah kebijakan. Aksi protes penting, tetapi jika tidak bermuara kepada perubahan kebijakan, gerakan akan cepat kehilangan momentumnya dan meredup.

Indonesia akan menghadapi medan ujian di depan mata. Pemilihan Umum 2029 akan memperlihatkan apakah epistemologi politik baru yang tengah terbentuk sekarang ini mampu menjadi pengaruh nyata. Orang muda, termasuk Generasi Alpha, akan menjadi mayoritas pemilih. Pengalaman protes dalam dua tahun terakhir ini, dan kesadaran bahwa mereka tidak sendirian tapi sudah menjadi tren di Asia dan diberitakan dunia, akan menyisakan jejak preferensi mereka. Ada dua kemungkinan di sini. Pertama, seperti yang terjadi sebelumnya, energi politik baru ini akan menjadi pelengkap proses yang konvensional. Jika pada tahun 2024 politik elektoral didominasi para artis, pada tahun 2029 bisa didominasi para pemengaruh (influencer) dengan gimik politik menarik, bahasa yang segar, tetapi hanya di level kosmetik. Kedua, yang lebih sulit tapi lebih menjanjikan, adalah munculnya kekuatan politik yang sanggup mengikat jaringan digital kepada pengalaman konkret: akuntabilitas anggaran, layanan publik yang terukur, redistribusi kemakmuran yang nyata. Dan jalur kedua ini tidak bisa menunggu saat kampanye nanti, melainkan dalam keseharian mulai sekarang. Penentunya adalah organisasi lentur yang hidup dari partisipasi, laboratorium data yang memeriksa kebijakan dan anggaran, kanal pendidikan yang menyiapkan relawan untuk mengawasi kebijakan, dan bukan sekadar penyebar tautan. 

Mereka yang berharap kepada perubahan cepat mungkin kecewa membaca bahwa pekerjaan yang diperlukan adalah pekerjaan harian yang membosankan: mengarsip, memetakan, menyusun argumen, bertemu warga, memantau rapat, menulis keberatan, memperbaiki draf. Tetapi justru itulah jalan agar energi yang besar tidak habis sebagai pesta kembang api. Kemenangan kecil yang dikumpulkan, satu per satu, membangun daya tahan yang tidak mudah dibatalkan ketika musim berganti. Jangan bayangkan organisasi sebagai kantor dengan meja penuh map; bayangkan ia sebagai jaringan orang biasa yang tahu apa yang ingin dicapai, tahu jalurnya, dan tahu bagaimana saling menggantikan ketika satu orang lelah. Di sana kreativitas Gen Z tidak padam, justru menemukan bentuk yang membuatnya relevan lebih lama.

Sejarah memberi cukup banyak peringatan untuk membuat kita rendah hati: gerakan bisa hilang secepat ia datang, dan ruang yang dibuka bisa segera direbut. Tetapi sejarah yang sama memberi alasan untuk tidak sinis. Setiap kali generasi baru muncul dengan cara pandang yang berbeda, konfigurasi lama tidak bisa lagi bekerja seperti sebelumnya. Entah mereka mau atau tidak, elite harus menyesuaikan diri, dan lembaga harus belajar mendengar ritme yang lain. Kita berada pada masa ketika meme dapat memulai percakapan, tetapi yang akan menyelesaikannya adalah manifesto yang dikerjakan serius. Dari lini masa ke kebijakan, dari seruan singkat ke aturan yang bisa ditegakkan, masa depan politik Asia akan ditentukan oleh kemampuan generasi ini untuk menyatukan keberanian momen dengan ketekunan proses. Tidak ada kepastian bahwa hasilnya gemilang. Tetapi ada kepastian bahwa tanpa jahitan itu, kita hanya akan mengulang pola: ramai, meledak, reda, lalu lupa. Dengan jahitan, bahkan jika jalannya lambat dan kadang berbelok, kita punya kesempatan untuk mengubah gelegak menjadi perubahan yang menetap. Dan mungkin itu cara paling realistis sekaligus paling jujur untuk menghormati energi orang muda: bukan mengagungkannya sebagai ledakan yang tak tertandingi, tetapi merawatnya agar bertahan, agar bekerja, dan agar menang pada hal-hal yang penting.