Perempuan di Peta Rawan Pangan

Jaleswari Pramodhawardani Harian Kompas Minggu, 15 Maret 2026
img

Pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan serentak ke Iran. Selat Hormuz, jalur yang menanggung sekitar 20 persen pengiriman minyak dunia, praktis ditutup. Dalam hitungan jam, harga minyak Brent melonjak 13 persen. 

Perang itu jauh, tapi konsekuensinya merayap pelan: dari pasar minyak global, ke harga BBM nasional, ke ongkos logistik, ke harga beras dan minyak goreng di warung paling ujung. Sampai akhirnya tiba di dapur seorang ibu di Pegunungan Bintang, di Rote, di Kepulauan Aru, yang hari itu harus memilih, beli lauk atau bayar ongkos perahu ke puskesmas. Perang tidak pernah hanya urusan peta militer, tetapi juga urusan piring makan.

Peta itu berwarna. Hijau di Jawa, Bali, sebagian Sumatera. Merah menyala di Papua, NTT, Maluku. Hijau berarti kenyang, atau setidaknya cukup. Merah berarti negara belum tiba, dan mereka yang menunggu tidak punya waktu untuk terus menunggu. Sekilas ia tampak seperti peta biasa, data administrasi, angka kerentanan, proyeksi kebijakan. Namun, bagi mereka yang tahu cara membacanya, peta itu adalah peta tubuh. Tubuh perempuan.