header

Publikasi

Publikasi Kami

img
Kamis, 21 Agustus 2025

Refleksi Delapan Dekade dan Proyeksi Indonesia 2045: Pemberdayaan Perempuan Bidang Kesehatan, Pendidikan, dan Ekonomi

Aldi Pahala Rizky, Ratu Dyah Ayu Gendiswardani Politik Media dan Gender Monograf

Monograf kali ini akan menyajikan kajian kritis atas delapan puluh tahun perjalanan pemberdayaan perempuan Indonesia melalui kerja-kerja pemerintahan dengan menelusuri perubahan paradigma pembangunan dari masa ke masa (termasuk dinamika sosial-politik), serta capaian dan tantangan yang dihadapi hingga hari ini. Melalui pendekatan multidisipliner dan partisipatif, dokumen ini tidak hanya memotret kebijakan dan data, tetapi juga menarasikan pengalaman dan suara perempuan dari berbagai kelas sosial dan wilayah, yang selama ini sering terpinggirkan dalam diskursus pembangunan arus utama.

Dari masa kolonial hingga era digital, perempuan Indonesia telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah bangsa. Mereka bukan hanya obyek dari perubahan, tetapi aktor utama dalam perjuangan atas pendidikan, kesehatan, dan ekonomi perempuan. Namun, temuan utama dalam kajian ini menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan di Indonesia masih jauh dari kata tuntas. Pemerintah cenderung terjebak dalam pendekatan simbolis dan birokratis, dengan kerangka pembangunan yang cenderung maskulin, sektoral, dan elitis. Banyak kebijakan yang mengatasnamakan kesetaraan, tetapi tidak disertai dengan redistribusi kekuasaan dan sumber daya secara nyata.

Peningkatan akses perempuan terhadap pendidikan dasar dan kehadiran kebijakan progresif, seperti Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) merupakan capaian penting. Namun demikian, kekerasan berbasis gender tetap tinggi, angka partisipasi kerja perempuan stagnan di bawah 60%, dan kerja perawatan masih dianggap tidak bernilai. Beban ganda dan subordinasi perempuan tetap menjadi realitas yang tidak sepenuhnya terjawab oleh kebijakan negara, bahkan di tengah narasi pembangunan inklusif yang kerap didengungkan.

Menuju Indonesia 2045 dengan bonus demografinya, transformasi struktural tidak bisa ditunda. Pemerintah harus menjadikan keadilan gender sebagai fondasi utama demokrasi yang substansial, bukan hanya sekadar prosedural, mencakup perombakan kerangka kebijakan dan anggaran yang responsif gender, penguatan sistem perlindungan korban kekerasan, pengakuan atas kerja-kerja reproduktif dan perawatan, serta pelembagaan pendidikan inklusif sejak dini. Hanya dengan cara ini, demokrasi Indonesia bisa disebut adil, dan masa depan 2045 menjadi milik bersama, termasuk bagi perempuan yang selama ini dibungkam oleh sistem.

img
Kamis, 21 Agustus 2025

Refleksi Delapan Dekade dan Proyeksi Indonesia 2045: Relasi Demokrasi, Ekonomi, dan Lingkungan Hidup

Radhityana Muhammad, Indah Lestari Saani Ekonomi Politik Monograf

Isu lingkungan hidup akan menjadi tantangan global utama pada masa depan yang menentukan keberlanjutan pembangunan umat manusia. Indonesia, dengan kekayaan ekologis sekaligus kerentanan institusionalnya, menghadapi tekanan besar untuk menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi, tata kelola demokrasi, dan keberlanjutan lingkungan. Monograf ini menyajikan analisis empiris atas hubungan jangka panjang antara pertumbuhan ekonomi, kualitas demokrasi, dan degradasi lingkungan (dalam bentuk emisi CO₂) selama lebih dari 80 tahun perjalanan Indonesia merdeka. Serta melakukan proyeksi terhadap kondisi pada masa yang akan datang demi mencapai visi Indonesia Emas 2045.

Salah satu temuan utama dari monograf ini adalah berlakunya hipotesis Environmental Kuznets Curve (EKC) di Indonesia, yaitu hubungan berbentuk kurva-U terbalik antara pendapatan per kapita dan emisi karbon. Pada tahap awal pembangunan, peningkatan pendapatan per kapita mendorong naiknya emisi karbon. Namun setelah mencapai titik balik, emisi mulai menurun seiring pertumbuhan ekonomi. Estimasi menunjukkan titik balik emisi karbon berada pada kisaran pendapatan per kapita yang beragam tergantung model yang digunakan, hal ini juga mengisyaratkan pentingnya perencanaan lintas sektor untuk mempercepat pencapaiannya.

Lebih lanjut, kualitas demokrasi terbukti memainkan peran penting dalam menjaga kondisi lingkungan hidup. Berdasarkan hasil estimasi, variabel demokrasi yang digunakan memiliki pengaruh yang signifikan dengan arah yang negatif  dalam monograf ini. Dari tiga dimensi demokrasi yang diuji—demokrasi elektoral, partisipatif, dan deliberatif variabel demokrasi partisipatif terbukti paling konsisten memberikan pengaruh yang lebih besar dalam menekan laju emisi karbon. Dalam kaitannya dengan lingkungan hidup, demokrasi yang matang membuka ruang untuk masyarakat sipil memberikan aspirasi serta berpartisipasi dalam pengambilan kebijakan. Kondisi ini mampu meningkatkan akuntabilitas kebijakan, serta memperkuat mekanisme pengawasan terhadap eksploitasi sumber daya alam. Sayangnya, tren regresi demokrasi dalam satu dekade terakhir telah berkontribusi pada melemahnya komitmen perlindungan lingkungan, meningkatnya kompromi politik terhadap kepentingan jangka pendek, dan memburuknya ruang gerak aktivisme lingkungan.

Selain demokrasi dan ekonomi, monograf ini juga menyoroti bahwa konsumsi energi fosil dan deforestasi sebagai penyumbang utama emisi gas rumah kaca. Hingga saat ini, 87 persen pasokan energi Indonesia masih bersumber dari energi tak terbarukan (batu bara, minyak, dan gas). Luas tutupan hutan nasional terus menyusut, dari 65 persen pada 1990 menjadi 48 persen pada 2022. Kondisi ini membatasi kapasitas Indonesia dalam menyerap emisi karbon. Namun demikian, kebijakan yang bersifat lintas sektor termasuk sektor kehutanan dan energi akan sangat berpengaruh terhadap kualitas lingkungan hidup dan mempercepat titik balik dari EKC.

Monograf ini juga menyoroti terkait transformasi regulasi sejak Indonesia merdeka. Hasil kajian menyoroti bahwa dalam satu dekade terakhir muncul berbagai kebijakan kontroversial yang berdampak negatif terhadap upaya perlindungan lingkungan hidup. Salah satunya adalah Undang-Undang Cipta Kerja (UU Ciptaker) yang menjadi hambatan dalam upaya proteksi lingkungan hidup. Munculnya regulasi kontroversial ini juga bersamaan dengan regresi demokrasi yang terjadi. 

Selanjutnya, berkaitan dengan proyeksi masa yang akan datang, para penulis  menganggap bahwa tahun 2025 menjadi titik krusial yang akan mempengaruhi proyeksi tahun 2030 dan proyeksi tahun 2045. Jika regresi demokrasi dan eksploitasi sumber daya berlanjut, Indonesia akan kesulitan untuk mencapai kondisi ideal (demokrasi lingkungan), terhambat untuk memenuhi target net zero emissions serta mencapai cita-cita Indonesia Emas 2045. Sebaliknya, jika demokrasi diperkuat dan transisi energi dipercepat, Indonesia memiliki peluang besar dalam mencapai kondisi ideal serta target-target yang dituliskan dalam dokumen rencana pembangunan. 

Sebagai penutup, meski monograf ini membahas mengenai demokrasi, para penulis tidak memberikan pandangan apakah sistem demokrasi atau otoritarianisme yang lebih mampu untuk mengatasi masalah lingkungan.  Baik negara dengan sistem demokrasi maupun otoritarian, para penulis meyakini bahwa isu lingkungan dan perubahan iklim akan menjadi ancaman global pada masa yang akan datang dan akan berdampak pada kehidupan manusia. Maka dari itu, melalui monograf ini para penulis merekomendasikan penguatan terhadap mekanisme partisipasi publik yang lebih dapat diakomodasi oleh demokrasi, evaluasi pada pendidikan, pemanfaatan potensi energi baru dan terbarukan, serta integrasi isu lingkungan ke dalam semua proses kebijakan publik. Pertumbuhan ekonomi tanpa dukungan tata kelola demokratis dan keberlanjutan ekologis hanya akan menciptakan kemajuan yang rapuh. Arah pembangunan Indonesia ke depan harus menjamin kesejahteraan yang adil, lestari, dan demokratis bagi seluruh generasi.

img
Kamis, 21 Agustus 2025

Refleksi Delapan Dekade dan Proyeksi Indonesia 2045: Peran Kelas Menengah terhadap Demokrasi

Baginda Muda Bangsa, Jessica Arreta Ekonomi Politik Monograf

Monograf ini menyadari bahwa pendekatan ekonomi semata dalam memahami kelas menengah tidak cukup menjelaskan keragaman peran politik mereka. Pendekatan tersebut cenderung menyederhanakan identitas kelas menengah sebagai kelompok homogen berbasis pendapatan atau konsumsi. Karena itu, tulisan ini menggunakan pendekatan simbolik-historis sebagaimana dikemukakan oleh Ariel Heryanto, yang menempatkan kelas menengah sebagai posisi sosial yang terbentuk oleh relasi simbolik, ideologis, dan historis. Pendekatan ini memungkinkan pengenalan terhadap segmen kelas menengah kritis, yaitu mereka yang mandiri secara ekonomi dan/atau aktif dalam partisipasi sipil untuk mendorong demokrasi. 

Studi ini menemukan bahwa kelas menengah kritis, termasuk mahasiswa, cendekiawan, jurnalis, dan aktivis secara konsisten berperan dalam momen-momen krusial demokratisasi Indonesia, mulai dari keterlibatan dalam parlemen era Demokrasi Liberal, perlawanan terhadap Demokrasi Terpimpin, hingga konsolidasi gerakan sipil pada akhir Orde Baru. Meskipun jumlah mereka relatif kecil, kekuatan simbolik, jaringan sosial, serta keberanian menghadapi represi menjadikan mereka katalis perubahan. Sebaliknya, kelompok kapitalis pribumi yang sempat didorong negara untuk tumbuh justru gagal memainkan peran politik karena bergantung pada patronase dan tidak memiliki kapasitas organisasi sebagai oposisi.

Menjelang 100 tahun kemerdekaan Indonesia, demografi Gen Z dan generasi setelahnya memiliki signifikansi ekonomi dan politik. Mereka merupakan kelompok usia dengan jumlah terbesar dan akan mendominasi populasi usia kerja. Potensi mereka sebagai kelas menengah kritis baru terbuka lebar, terutama karena memiliki akses pendidikan lebih baik dan literasi digital yang tinggi. Namun, mereka juga menghadapi tantangan struktural yang dapat melemahkan partisipasi sipil seperti ketidakpastian ekonomi, dominasi pekerjaan informal, disrupsi teknologi.

Berdasarkan temuan tersebut, monograf ini menegaskan bahwa konsolidasi demokrasi Indonesia ke depan bergantung pada terbentuknya kelas menengah kritis baru yang berdaya secara ekonomi dan aktif secara politik. Untuk itu, dua faktor kunci perlu diperkuat:

  1. Pekerjaan formal berkualitas, yang tidak hanya menyediakan pendapatan stabil tetapi juga membuka ruang aktualisasi dan keberanian berpolitik.
  2. Pendidikan integral, yang tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar tenaga kerja tetapi juga menumbuhkan etika kewarganegaraan dan kesadaran demokratis.
img
Rabu, 20 Agustus 2025

Refleksi Delapan Dekade dan Proyeksi Indonesia 2045: Trajektori Relasi Media Massa dan Negara

Salma Salima H. N., Ali Nur Alizen Politik Media dan Gender Monograf

Media massa dan demokrasi membentuk relasi yang tak terpisahkan dalam kehidupan sosial-politik. Di satu sisi, media memiliki peran strategis dalam menopang prinsip-prinsip demokrasi. Namun, dalam praktiknya, media tidak selalu mampu menjalankan fungsi ideal tersebut karena terhalang oleh kepentingan politik rezim yang berkuasa maupun dominasi elite ekonomi. Negara memiliki instrumen untuk membatasi ruang gerak media melalui penyensoran, pembredelan, hingga intervensi pasar. Di sisi lain, pemilik media sering kali menggunakan kekuatan sumber dayanya untuk memengaruhi arah redaksi demi kepentingan pribadi atau afiliasi politiknya.

Dengan posisi ganda sebagai pelayan kepentingan publik dan entitas bisnis, media berada dalam dilema struktural yang kompleks. Dalam mengeksplorasi ekosistem media massa 80 tahun ke belakang, fokus kajian ini diarahkan kepada tiga dimensi utama: pola intervensi negara terhadap media, konsentrasi kepemilikan dan dominasi oligarki media, serta transformasi teknologi dalam lanskap industri media. Untuk menganalisis dinamika ini, digunakan pendekatan partisan polyvalence yang dikembangkan oleh Duncan McCargo.

Selama delapan dekade terakhir, intervensi negara terhadap media menunjukkan pola yang dinamis namun konsisten dalam kecenderungan represif. Pada awal kemerdekaan, negara cenderung permisif namun tidak stabil; memasuki era Demokrasi Terpimpin, kontrol negara menguat secara ideologis dan administratif. Era Orde Baru memperlihatkan puncak hegemoni negara atas media melalui sensor ketat dan pembredelan sistematis. Reformasi membawa angin kebebasan, tetapi praktik intervensi justru menjadi lebih rumit dan terselubung, terutama melalui regulasi pasar yang lemah. Pada era digital, negara menunjukkan ketidaksiapan dalam mengelola ekosistem informasi, menciptakan tumpang tindih kebijakan dan respons yang cenderung reaktif terhadap dinamika baru, termasuk kekerasan terhadap jurnalis yang tetap berlangsung hingga kini.

Sementara itu, konsentrasi kepemilikan media mengemuka sejak Orde Baru, ketika kepentingan politik dan ekonomi dipadukan dalam struktur media yang tersentralisasi. Pascareformasi, liberalisasi sektor media justru memperkuat dominasi segelintir konglomerat. Industri media menjadi wahana bagi oligarki yang sarat konflik kepentingan. Afiliasi politik media yang semula terbuka pada era awal kemerdekaan, kemudian disatukan secara koersif dalam kendali pemerintah Orde Baru, kini kembali berkembang secara liar dan tidak transparan dalam era demokrasi elektoral.

Kemajuan teknologi membawa perubahan besar kepada sistem distribusi informasi, namun tidak serta merta menciptakan keberagaman dalam kepemilikan. Sebaliknya, platform digital justru menjadi ruang baru bagi akumulasi kuasa yang sama: dominasi modal besar, keterhubungan dengan elite politik, dan marginalisasi suara alternatif. Disrupsi teknologi belum mampu menggoyahkan struktur kekuasaan lama yang tetap bercokol dalam industri media di Indonesia. Dalam konteks ini, Akal Imitasi (AI) turut melanggengkan ketimpangan. Di satu sisi berfungsi sebagai alat otomatisasi, tetapi di sisi lain memperkuat ketergantungan media pada algoritma dan logika pasar. Jurnalisme kian rentan, baik dalam aspek kerja maupun norma, ketika peran sosialnya tergeser oleh kepentingan komersial dan dorongan efisiensi teknologi tanpa disertai pengaturan yang memadai.

img
Rabu, 20 Agustus 2025

Refleksi Delapan Dekade dan Proyeksi Indonesia 2045: Pasang Surut Demokrasi dan Partai Politik

Omar Farizi Wonggo, Pratama Putra Prasetya Politik Hukum dan Keamanan Monograf

Delapan dekade perjalanan demokrasi Indonesia mencerminkan dinamika politik yang kompleks dan penuh gejolak. Demokrasi Indonesia tidak berkembang secara linier, tetapi mengalami fluktuasi tajam yang dipengaruhi oleh perubahan rezim, orientasi kekuasaan, dan kapasitas kelembagaan negara. Sejak era parlementer hingga masa Reformasi, demokrasi Indonesia telah menghadapi tekanan struktural maupun kultural yang berdampak pada ketegangan antara prosedur formal demokrasi dan kualitas substantifnya.

Penurunan kualitas demokrasi Indonesia dalam dua dekade terakhir terjadi karena semakin dominannya kekuasaan eksekutif, pelemahan lembaga pengawas, serta kooptasi terhadap parlemen, yudikatif, dan media. Partai politik, yang seharusnya menjadi penggerak utama demokrasi, justru berkontribusi pada pelemahan demokrasi melalui kartelisasi, oligarkisasi, dan personalisasi. Di tengah sistem multipartai, tidak terjadi diferensiasi ideologis atau kontestasi programatik yang bermakna, melainkan justru terjadi konvergensi kepentingan elite politik yang menyatu dalam koalisi pragmatis kekuasaan. Akibatnya, demokrasi prosedural kehilangan daya kontrol dan kepercayaan publik semakin menurun.

img
Senin, 18 Maret 2024

Prospek Penggunaan Tiktok Sebagai Instrumen Politik Pada Pemilihan Umum 2024

Ali Nur Alizen, Raisuddin, Ratu Dyah Ayu Gendiswardani, Salma Salima H. N., Rafi Alif Muhammad Akbar Politik Media dan Gender Monograf

Peran media sosial dalam dinamika politik elektoral telah banyak dibahas dalam lanskap akademik. Platform media sosial seperti Twitter dan Facebook telah memengaruhi berbagai pemilihan umum di dunia dalam berbagai bentuk. Pada pertengahan 2010-an, muncul media sosial baru yang pada tahun-tahun berikutnya akan mengalami pertumbuhan pesat, yakni TikTok. Besarnya audiens TikTok membuatnya dikonsiderasikan sebagai instrumen baru kandidat politik untuk bertarung dalam kontestasi politik di media sosial. Studi kasus di Filipina dan Malaysia menunjukkan tren awal penggunaan TikTok sebagai instrumen politik. Selanjutnya, Indonesia akan menghadapi Pemilu pada tahun 2024 mendatang dan TikTok bukan tidak mungkin akan mengikuti jejak Facebook dan Twitter yang sudah terlebih dahulu digunakan politisi untuk menyebarkan narasinya.

Berdasarkan konteks ini, tim penulis melakukan focus group discussion dan wawancara mendalam dengan berbagai pihak yang relevan dalam isu ini. Hasil dari proses tersebut menunjukkan bahwa TikTok memang merupakan instrumen politik elektoral yang ideal untuk meningkatkan kesadaran pemilih terhadap seorang kandidat. Lebih lanjut, tim penulis juga menemukan bahwa TikTok memiliki karakteristik tertentu yang nantinya akan menjadi kesempatan sekaligus tantangan bagi politisi, otoritas, maupun masyarakat dalam dinamika politik elektoral di tahun 2024 mendatang. Monograf ini juga mengajukan beberapa poin saran bagi pihak-pihak yang akan terlibat dalam Pemilu 2024 dalam merespons TikTok.

img
Selasa, 28 November 2023

Demokrasi Inovatif: Intervensi Digital Mendobrak Dilema Demokrasi dan Pemerintahan Efektif

Sigit Pamungkas, Omar Farizi Wonggo, Ali Nur Alizen, Irhamna, Julyan Ferdiansyah, Amalinda Savirani, Vita Yudhani Politik Hukum dan Keamanan Monograf

Demokrasi dan pemerintahan yang efektif merupakan dua hal yang sangat penting, tetapi keduanya memiliki ketegangan satu sama lain dan menghasilkan dilema yang dihadapi pemerintah di seluruh dunia. Padahal, keduanya berperan sama pentingnya dalam mendorong peningkatan kualitas demokrasi. Literatur utama menunjukkan bahwa relasi keduanya sebagai hal yang terpisah, meski telah ada yang berupaya mensintesiskan keduanya. Monograf ini menggali dan mendalami dilema interaksi tersebut dan mencari jalan bagaimana keduanya dapat mendorong peningkatan mutu demokrasi dan mutu pemerintahan yang efektif di Indonesia. Upaya mendorong ini berada dalam konteks terus meningkatnya digitalisasi di Indonesia. Ada satu pertanyaan utama dalam monograf ini, yaitu bagaimana mendorong rekalibrasi demokrasi dan pemerintahan efektif di Indonesia di era digital. Pertanyaan utama ini diturunkan menjadi tiga pertanyaan, yakni (1) Bagaimana kondisi demokrasi dan tata kelola pemerintahan Indonesia yang cenderung memiliki relasi dilematis?; (2) Bagaimana implementasi pemerintahan efektif dapat berperan sebagai katalisator dalam menguatkan demokrasi di era digital dan sebaliknya?; dan (3) Bagaimana upaya mengoptimalkan disrupsi digital sebagai akselerator penerapan pemerintahan efektif dan peningkatan kualitas demokrasi?

img
Selasa, 28 November 2023

Tren Pasar Senjata Global dan Pengembangan Industri Pertahanan Indonesia

Dizar Ramadhan Sabana, Curie Maharani, Iis Gindarsah, Adya Maula, Samantha Svenska Kendra Politik Hukum dan Keamanan Monograf

Globalisasi produksi merupakan karakter pasar senjata kekinian. Perubahan permintaan dan eskalasi ongkos produksi senjata menjadi faktor yang mendorong penguatan globalisasi. Partisipasi dalam rantai pasok global merupakan langkah strategis bagi industri pertahanan dalam merespons pasar yang makin terinternasionalisasi. Akan tetapi, bagi negara dengan potensi produksi pertahanan menengah, seperti Indonesia, upaya bergabung dalam rantai pasok global bukan proses yang mudah. Monograf ini menawarkan gagasan arah strategi pengembangan industri pertahanan Indonesia menuju rantai pasok global.

img
Selasa, 28 November 2023

Kompetisi Arsitektur Konektivitas Global: Posisi dan Opsi bagi Indonesia

Indah Lestari Saani, Muhammad Habib Abiyan Dzakwan, Dandy Rafitrandi, Agus Catur Aryanto Putro, Rionanda Dhamma Putra, Jessica Arreta, Bimo Pragilaksono Ekonomi Politik Monograf

Dinamika global saat ini diwarnai oleh ketidakpastian akibat persaingan geopolitik. Dewasa ini, negara-negara adidaya saling bersaing menawarkan kerangka kerja konektivitas dengan membangun suatu jaringan rantai nilai untuk kepentingan geopolitik mereka. Meskipun isu ini strategis, perkembangan diskusi dan literatur masih cenderung berporos pada perspektif negara-negara penggagas inisiatif global. Oleh sebab itu, monograf ini berupaya untuk menawarkan cara pandang baru dari negara non-penggagas dalam menghadapi beragam prakarsa konektivitas.

img
Selasa, 28 November 2023

Optimasi Industri Pertahanan Nasional Guna Mendorong Transformasi Militer Indonesia

Reine Prihandoko, Febry Triantama, Aditya Haryo Wahyudi, Adhi Priamarizki, Kiara Dwileysia Hamzah, Fathie Hamadi Politik Hukum dan Keamanan Monograf

Autarki atau kemandirian telah lama menjadi ambisi industri pertahanan Indonesia. Berbagai upaya telah dilakukan guna mencapai ambisi tersebut, termasuk pembentukan Komite Kebijakan Industri Pertahanan pada tahun 2010, pengesahan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan, serta Undang- Undang Cipta Kerja yang melengkapi dengan tujuan untuk meningkatkan keterlibatan sektor swasta di dalam produksi senjata nasional.