Krisis Hegemoni Global: Polarisasi Domestik, Kerapuhan Ekonomi, dan Tantangan Geopolitik

Andi Widjajanto, Baginda Muda Bangsa, Dizar Ramadhan Sabana Cakrawala Strategis Selasa, 24 Juni 2025
img

Tulisan ini menganalisis siklus naik-turun kekuasaan hegemonik global melalui lensa simbolisme empat penunggang kuda dalam Kitab Wahyu, yakni penaklukan, perang, kelaparan, dan kematian sebagai metafora dari kontradiksi internal dan tekanan sistemik yang mempercepat keruntuhan hegemoni. Melalui studi komparatif terhadap Portugal, Spanyol, Belanda, Inggris, Uni Soviet, dan Amerika Serikat (AS), tulisan ini mengidentifikasi pola kerentanan struktural yang konsisten, seperti ekspansi militer yang berlebihan (imperial overstretch), kerapuhan ekonomi, kegagalan institusi politik, serta munculnya resistensi domestik dan global terhadap tatanan hegemonik. 

Fokus utama pada hegemoni AS menunjukkan bahwa negara ini tengah menghadapi fase erosi hegemonik yang ditandai oleh polarisasi politik yang tajam, ketimpangan ekonomi yang melebar, serta tren melemahnya legitimasi global. Persaingan strategis dengan Tiongkok semakin memperkuat tekanan eksternal, terutama dalam bidang penguasaan teknologi mutakhir, ekspansi konektivitas global, dan penguasaan rantai pasok mineral strategis. 

Kebijakan politik-ekonomi Trump yang dibalut dalam narasi America First dan Make America Great Again (MAGA) termanifestasi melalui economic statecraft (penggunaan instrumen ekonomi untuk mencapai kepentingan politik seperti sanksi tarif dan pemberhentian bantuan luar negeri) dikaji sebagai strategi bertahan atas ancaman sistemik. Akan tetapi, pada saat bersamaan kebijakan ini juga menimbulkan risiko yang dapat melemahkan kekuatan AS dalam bentuk tekanan inflasi, retaliasi perdagangan, serta eskalasi geopolitik yang lebih luas.

Beranjak dari analisis tersebut, AS seolah mencerminkan pola yang berulang dalam sejarah hegemoni global. Ketika ambisi ekspansi melebihi kapasitas negara hegemon, maka krisis legitimasi menjadi tak terhindarkan. Transisi hegemonik bukanlah sekadar pergeseran kekuasaan antarnegara, melainkan penanda disintegrasi dari struktur yang telah kehilangan keseimbangan antara kepemimpinan global dan ketahanan internal. Seperti perjalanan hegemoni sebelumnya, AS kini menghadapi kutukan kontradiksi struktural yang secara historis selalu menandai senjakala kekuasaan global.