Publikasi
Publikasi Kami

1929: Inside the Greatest Crash in Wall Street History and How It Shattered a Nation
Buku 1929 karya Andrew Ross Sorkin merupakan sebuah rekonstruksi historis yang komprehensif mengenai runtuhnya pasar saham Amerika Serikat pada tahun 1929. Peristiwa yang kemudian dikenal sebagai The Great Crash dan menjadi pemicu Depresi Besar. Andrew Ross Sorkin merupakan seorang jurnalis ekonomi ternama yang juga menulis Too Big to Fail, menyajikan narasi dengan pendekatan yang sangat manusiawi, serta menghidupkan kembali tokoh-tokoh kunci di balik krisis, mulai dari bankir raksasa, regulator, politisi, hingga para spekulan yang mempengaruhi arah sejarah ekonomi modern. Melalui gaya penulisan Sorkin tidak hanya mendeskripsikan alur kejadian, tetapi juga menggali motivasi, dinamika personal, dan konflik politik yang membentuk fondasi kerentanan sistem keuangan. Dalam kerangka ini, buku 1929 tidak hanya dilihat sebagai karya sejarah, tetapi juga sebagai studi kasus mengenai keterbatasan regulasi, bahaya spekulasi berlebihan, dan kegagalan institusional.

How States Think: The Rationality of Foreign Policy
Negara mengambil kebijakan luar negeri berdasarkan pertimbangan rasionalitas. Rasionalitas adalah bagaimana aktor internasional memandang dunia menurut persepsinya sendiri untuk mencapai tujuannya. Namun, sistem internasional merupakan sebuah tempat yang sulit bagi aktor untuk mendapatkan informasi. Seandainya aktor internasional berhasil mendapatkan informasi yang diinginkannya, ada probabilitas besar bahwa informasi tersebut tidak dapat diandalkan karena telah dimanipulasi oleh aktor-aktor lain. Dengan kata lain, negara membutuhkan sebuah teori untuk dapat melihat sebuah fenomena dengan lebih masuk akal. Aktor pembuat kebijakan luar negeri juga akan dikatakan rasional ketika menggunakan teori untuk melihat fenomena yang terjadi agar dapat mencapai tujuannya.

The Weaponisation of Everything
Dunia sedang mengalami pergeseran dalam konteks metode peperangan. Dunia kini menghadapi peperangan tingkat rendah yang berkelanjutan. Perang sering muncul secara tidak disadari, tanpa deklarasi, tidak akan berakhir, serta membuka potensi bagi kawan atau sekutu untuk juga dapat menjadi lawan atau pesaing. Konfrontasi yang terjadi saat ini nyatanya tidak lagi dilakukan di medan perang, tetapi menggunakan aspek kehidupan yang “dipersenjatai” untuk mencapai kepentingan nasional. Beberapa contoh aspek tersebut adalah sanksi ekonomi, disinformasi antivaksinasi, hingga hooliganisme penggemar sepak bola, layaknya yang terjadi ketika konfrontasi antara penggemar sepak bola Rusia dengan Inggris dalam ajang turnamen sepak bola Eropa di Perancis pada tahun 2016 yang dikatakan sebagai sebuah kelanjutan dari ‘perang hibrida/hybrid war’ yang dilakukan oleh Vladimir Putin. Oleh karena itu, beberapa aspek yang berpotensi dipersenjatai akan dieksplorasi lebih jauh, termasuk bisnis, kejahatan, kehidupan secara umum, hukum, teknologi informasi, dan budaya.

Antara Marhaenisme dan Marxisme
Marhaenisme adalah suatu paham atau ajaran (-isme) yang memiliki pengaruh sangat besar dalam kehidupan bangsa Indonesia. Marhaenisme pertama kali dirumuskan oleh Soekarno. Istilah ini ia temukan ketika sedang berjalan-jalan tanpa arah tujuan di Bandung dan menemui seorang petani bernama Marhaen. Petani tersebut sedang memacul di sawahnya sendiri, menggunakan cangkulnya sendiri, tetapi tetap hidup dalam kemiskinan (Feith & Castels, 1988). Sejak bertemu dengannya, Soekarno kerap menggunakan istilah Marhaenisme sebagai simbol perjuangan melalui ajaran-ajarannya. Marhaenisme sebagai ideologi memiliki tafsir yang beragam semenjak awal kemunculannya. Keberagaman ini disebabkan tidak adanya penjelasan resmi yang cukup lengkap, baik dari partai-partai pada masa itu yang menggunakan Marhaenisme sebagai asas, maupun dari Soekarno sendiri.

Rebel Bodies: A Guide to The Gender Health Gap Revolution
Buku “Rebel Bodies: A Guide to the Gender Health Gap Revolution” karya Sarah Graham menyajikan argumen komprehensif bahwa kesenjangan kesehatan gender yang meluas adalah realitas yang mengakar dalam sistem kesehatan yang misoginis. Tujuan utama dari buku ini adalah untuk mengungkap disparitas tersebut melalui narasi serta pengalaman pasien, serta untuk mengadvokasikan transformasi radikal dalam sistem pelayanan kesehatan. Dorongan utama Graham menulis buku ini adalah rasa ketidakadilan yang menyulut semangatnya untuk mengatasi kesenjangan pelayanan kesehatan berdasarkan gender. Melalui pendekatan jurnalisme naratif dan feminisme interseksional, Graham menyusun mosaik pengalaman pasien untuk menunjukkan bahwa kesehatan bukan ranah netral, melainkan ruang perebutan kekuasaan yang membentuk siapa yang dianggap ‘layak didengar dan dirawat’. Bedah literatur ini akan menerangkan karya Graham yang transformatif dan merefleksikannya dengan keadaan kesehatan di Indonesia saat ini.

Algorithmic Regimes: Methods, Interactions, and Politics (Digital Studies)
Algorithmic Regimes, disebut juga Rezim Algoritma, adalah suatu kondisi di mana sistem algoritma berkembang menciptakan realitas baru melalui interaksi antara manusia dan mesin dalam dunia digital. Ide ini awalnya muncul dari sifat algoritma yang fleksibel, transparan, dan dinamis, sehingga menjadi suatu solusi yang dapat digunakan untuk mendukung demokratisasi dan transparansi dalam hubungan masyarakat-pemerintah, khususnya terhadap proses pemantauan berjalannya sistem pemerintahan dalam sistem pengawasan oleh masyarakat. Akan tetapi, fungsi algoritma juga dapat digunakan oleh segelintir pihak, khususnya penguasa, untuk memanipulasi perilaku, mengintervensi, memantau, dan memanfaatkan data milik masyarakat tanpa persetujuan untuk kepentingan pemerintah.

The New Fire: War, Peace, and Democracy in the Age of AI
Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence, AI) diibaratkan seperti api, yang evolusi dan implikasinya terbagi menjadi tiga bagian penting. Pertama, “kobaran api” (“ignition”) mengeksplorasi elemen dasar data, algoritma, dan kekuatan komputasi yang telah merevolusi AI modern, membedakannya dari rekayasa perangkat lunak tradisional. Kedua, “bahan bakar” (“fuel”) menunjukkan daya tarik keberhasilan AI dalam mendorong negara-negara untuk memanfaatkan potensinya demi kepentingan keamanannya, serta menyadari signifikansi strategisnya. Ketiga, “kebakaran” (“wildfire”) menyelidiki risiko terkait pengembangan AI yang tidak terkendali, menekankan keseimbangan antara mencapai keamanan dan mengurangi rasa takut, ketika negara-negara memasukkan AI ke dalam strategi militernya, yang berpotensi menyebabkan ketegangan dan konflik. Ketiga bagian ini dilihat secara berbeda tiga kelompok utama yang memiliki perspektif masing-masing terhadap perkembangan AI, yakni Evangelist, Cassandra, dan Warrior. Sementara para Evangelist ingin menggunakan AI untuk memajukan sains dan memberi manfaat bagi umat manusia, Cassandra mengkhawatirkan dampak bencana dari machine learning, sedangkan para Warrior menahan keinginan untuk menghakimi sambil mendorong riset-riset lebih jauh.

Understanding Land Warfare
Perang masih merupakan isu penting dalam hubungan antarnegara. Kemenangan dalam suatu perang berarti keberhasilan negara menggunakan beragam instrumen dalam peperangan di berbagai domain. Peperangan darat adalah salah satu domain kunci dalam memenangkan perang sejak masa lalu. Berbeda dengan domain lainnya, daratan memiliki karakteristik yang unik. Karakteristik itu terdiri dari (1) pentingnya kepentingan politik atas daratan; (2) variabilitas medan pertempuran; (3) opasitas medan pertempuran di daratan; (4) resistensi akibat sulitnya bergerak dengan cepat di daratan jika dibandingkan laut maupun udara; serta (5) mutabilitas atau kemampuan modifikasi daratan.

Great-Power Competition and Conflict in the 21st Century Outside the Indo-Pacific and Europe
Terdapat dua konsep yang menjadi kunci dalam tulisan ini, yakni persaingan dan teater sekunder. Persaingan dalam dunia internasional melibatkan usaha memperoleh keuntungan. Usaha tersebut dilakukan melalui pengejaran kepentingan sendiri, seperti kekuatan, keamanan, kekayaan, pengaruh, dan status, yang sering dianggap pihak lain sebagai sumber tantangan atau ancaman. Dari definisi tersebut, dapat ditarik dua aspek persaingan. Pertama, persaingan adalah permainan relatif. Tulisan ini mengkaji pengaruh, kekuatan, dan status dari Amerika Serikat (AS), Tiongkok, dan Rusia secara relatif. Kedua, persaingan tidak terikat secara tegas dan bertempat di berbagai domain. Negara-negara memperebutkan berbagai jenis barang sehingga menggunakan seperangkat instrumen–diplomatik, informasi, militer, dan ekonomi–untuk mencari keunggulan kompetitif. Dengan demikian, studi persaingan di teater sekunder perlu mempertimbangkan persaingan lintas dimensi yang berbeda. Konsep kedua adalah teater sekunder, yakni kekuatan-kekuatan besar bersaing untuk meningkatkan pengaruhnya di luar wilayah mereka. Tiga teater sekunder tersebut meliputi Afrika, Timur Tengah, dan Amerika Latin, yang didefinisikan sebagian besar di sepanjang batas geografis komando daripada konvensi politik.

Security and Defence: Ethical and Legal Challenges in The Face of Current Conflict
Sudut pandang multidisipliner berbasis etika menjadi pendekatan yang tepat dalam menghadapi konflik di abad ke-21. Coloquio Internacional sobre Cerebro y Agresión International Foundation bersama Antonio de Nebrija University dan didukung oleh Banco de Satander mencanangkan sebuah buku untuk mengumpulkan pendapat ahli dari berbagai bidang keilmuan tentang konflik yang terjadi pada zaman ini. Tema utama dalam buku Security and Defence: Ethical and Legal Challenges in The Face of Current Conflict dapat dibagi menjadi dua. Bagian pertama membahas masalah sains dan teknologi, khususnya pada bidang sibernetika. Sementara itu, bagian kedua mendalami permasalahan etis yang dihadapi dalam konflik di zaman ini. Topik-topik yang dibahas dalam buku ini cenderung beragam, sesuai dengan realitas pascamodernisme yang kompleks, kontradiktif, dan bermacam-macam.

